Skip to main content
Foto: © asudomo
Danang D. Cahyadi @DANANGCAHYADI
SKH (IPB), Drh (IPB)
Lahir di Bantul, Jogjakarta, pada tahun 1989, menempuh pendidikan formal hingga Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Bantul, sampai akhirnya tinggal di Bogor untuk melanjutkan kuliah. Bungsu dari dua bersaudara ini menyelesaikan program sarjana (S1) dan Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, masing-masing tahun 2012 dan 2013.


Menjadi ilustrator (freehand) pada beberapa buku dan publikasi ilmiah lain. Selain menggambar, ketertarikannya pada desain grafis mengantarkan Dokter Hewan ini sebagai desainer logo Asosiasi Sekolah Kedokteran Hewan Se-Asia Tenggara (baca: SEAVSA) dan lainnya. Suka traveling.




Comments

Popular posts from this blog

Resusitasi Penyakit Napas: Nebulizer

Pendahuluan
Resusitasi atau reanimasi di dalam kamus-kamus diartikan sebagai menghidupkan kembali atau memberi hidup baru. Secara luas, resusitasi diartikan sebagai segala bentuk usaha medis, yang dilakukan terhadap pasien yang berada dalam keadaan gawat atau kritis, untuk mencegah kematian. Kematian dalam dunia klinik diartikan sebagai hilangnya kesadaran dan semua refleks, disertai berhentinya pernafasan dan peredaran darah yang irreversible (tidak dapat dipulihkan). Oleh karena itu, resusitasi menjadi suatu usaha untuk mengembalikan fungsi sistem pernafasan, peredaran darah dan saraf, yang terganggu agar kembali normal (Safar 1984). Resusitasi dilakukan sebagai pertolongan terhadap kondisi darurat dari pasien.

Anatomi Gigi pada Beberapa Reptil

Segala hidupan ini diciptakan dengan maksud dan fungsi tertentu. Struktur anatomi hewan, baik anatomi secara umum maupun spesifik pada satu bagian pasti memiliki fungsi tertentu pula. Otot bahu dan lengan pada Macaca nemestrina yang besar dan kuat memiliki kaitan dengan tipe pergerakannya, yang dikenal dengan sebutan tipe brachiasi. Hal ini dikarenakan bahu dan lengannya menjadi alat lokomosi utama.

Eclampsia pada Anjing

Pada hewan kecil, khususnya anjing, yang sedang dalam masa menyusui setelah melahirkan,  banyak dilaporkan kasus eclampsia. Eclampsia lebih banyak dilaporkan pada anjing dibandingkan pada kucing, tetapi data kasusnya tidak sebanyak hipokalsemia yang dilaporkan pada hewan besar (sapi perah). Eclampsia merupakan penyakit akut, yang disebabkan oleh rendahnya kadar kalsium dalam darah (hipokalsemia), sering terjadi pada anjing ras kecil dengan jumlah anak banyak, jarang pada kucing (Eldredge et al. 2007; Pathan et al. 2011).  Kejadian eclampsia juga dapat terjadi selama kebuntingan dan akan menyebabkan distokia (Eldredge et al. 2007). Dengan etiologi penyakit yang sama, jika pada anjing disebuteclampsia, pada sapi perah lebih lazim dikenal dengan milk fever, sedangkan pada domba disebut purpueral tetany.
Eclampsia sering terjadi pada anjing betina 1-3 minggu setelah melahirkan tetapi kasus ini juga kadang-kadang ditemukan selama masa kebuntingan (Pathan et al. 2011). Kejadian eclampsia ter…