A Good Day to Run Away from Bogor: Hiking ke Papandayan

______________________

"Keren deh! Bagi pendaki yang ingin berfoto, solo maupun group selfie, atau ingin mengabadikan pemandangannya, hutan mati menjadi tempat yang yahuud
-Danang D. Cahyadi-

Awal November lalu, saya bersama beberapa teman melakukan pendakian ke Gunung Papandayan, gunung yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Peserta yang awalnya belasan orang, akhirnya menjadi delapan orang saja: Abas, Ganjar, Arif, Niken, Inez, Lidya, Arni,dan tentu saja si tukang ketik ini.

Berangkat hari Jumat malam dari rumah kira-kira jam 7 malam, kemudian saya dan kawan-kawan yang berangkat dari Bogor berkumpul di Terminal Baranangsiang. Sekitar jam 20.30, bus jurusan Bogor-Kampung Rambutan yang kami tumpangi melaju..... *SKIP* .... sampai di meeting point, Terminal Kampung Rambutan, dan bertemu dengan yang punya mobil yang akan kami tumpangi. Perjalanan dari Terminal Kampung Rambutan sampai Garut ditempuh sekitar 5 jam (alon-alon asal kelakon, Mas). *SKIP* lanjut cerita...

Beberapa menit sebelum memulai pendakian, tenaga masih full.


Gunung Papandayan, memang menjadi salah satu destinasi pendakian yang banyak diminati,khusunya di daerah Jawa Barat. Orang bilang sih, menjadi destinasi yang cocok bagi pemula, meskipun tidak sedikit pendaki-pendaki yang sudah punya jam terbang tinggi juga menyusuri jalur pendakian gunung ini. Meskipun begitu, persiapan fisik tetap menjadi persiapan standar dalam kegiatan hiking

Berbicara mengenai pemandangannya, keindahan Gunung Papandayan tidak bisa dipandang sebelah mata, kawah yang indahnya bisa dinikmati di awal-awal jalur pendakian, bahkan saking terpukaunya, kita bisa lupa ganti gaya saat berfoto. Terdapat empat kawah Papandayan, yang menyemburkan asap belerang panas, bau belerangnya jangan ditanya, oleh karena itu, kawan pendaki disarankan menggunakan masker saat melewati kawah. Dua atau tiga jam (saya tidak hitung, dan ini relatif tergantung kecepatan berjalan) dari titik awal pendakian dan setelah melalui pos dua, kita sudah bisa sampai di Pondok Saladah (pake 'h' biar kental suasana Sunda-nya), camping ground-nya Gunung Papandayan.

Jalur pendakian di tepi kawah Papandayan
Suasana camping ground  Pondok Saladah 

Pemandangan indah lainnya yang menjadi daya tarik Gunung Papandayan adalah hutan mati, dari Pondok Saladah terlihat jelas, ada area  lereng yang tidak hijau. Hutan mati, pepohonan di area ini tidak lagi hijau, hanya tersisa batang hangus, yang katanya disebabkan oleh lava erupsi Gunung Papandayan. Keren deh! Bagi pendaki yang ingin berfoto, solo maupun group selfie, atau ingin mengabadikan pemandangannya, hutan mati menjadi tempat yang yahuud.

Next, menempuh perjalanan setengah sampai satu jam (relatif) dari Pondok Saladah, kita bisa menemukan hamparan padang eidelweis, Tegal Alun.  Edelweis (Anaphalis javanica), merupakan tanaman endemik pada zona alpina atau montana, yang ditemukan pada daerah pegunungan dengan iklim yang dingin dengan ketinggian di atas 2000 mdpl.

Hutan mati, menjadi saksi bisu muntahan lava Gunung Papandayan

Berfoto di Tegal Alun.

Hamparan eidelweis di Tegal Alun, menjadi salah satu tempat terbaik untuk melihat edelweis, bahkan menurut saya lebih baik dibandingkan dengan Alun-alun Suryakencana (G. Gede) atau Mandalawangi (G. Pangrango). Meminjam ulasan detiktravel yang ditulis oleh Sri Anindiati Nursastri tentang Empat Tempat Terbaik untuk Melihat Edelweis di Indonesia, Tegal Alun memang menjadi satu dari empat tempat terbaik yang memiliki hamparan edelweis.

Namun, harus diingat, edelweis sebagai tanaman eksotik tersebut harus kita jaga dari kepunahan. Mitos, kenang-kenangan, atau euforia para pendaki yang berlebihan terkadang malah merusak vegetasi eidelweis di ekosistem alam yang ada. Coba cek status konservasi dari tanaman eksotik ini. Sebagai pejalan, kita perlu tahu apa yang seharusnya kita lakukan dan tidak lakukan, baik itu terkait adat setempat, nilai dan budaya lokal, ataupun kondisi alam yang kita kunjungi. 

"Take nothing but picture. Leave nothing but footprint. Kill nothing but time" 

Okay, kembali ke aktivitas saya dan teman-teman pendaki di Pondok Saladah. Akhir pekan merupakan waktu yang memungkinkan banyak orang untuk merencanakan pendakian, termasuk di Gunung Papandayan. Ratusan tenda berisi ribuan pendaki di Pondok Saladah, didirikan memadati camping ground tersebut. Konsekuensinya, antrian toilet pun mengular.

Aahh, itu tidak terlalu masalah, yang jelas, setiap perjalanan harus dinikmati. Hari Minggu siang kami baru melanjutkan perjalanan turun, alhasil sore hari baru sampai di pos awal pendakian. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jakarta dan Bogor setelah sempat mengisi perut  di Kota Garut. Akhirnya, hari Senin dini hari sampailah saya di rumah.

Kemana kita melakukan perjalanan, disitu kita mengukir kenangan di atas batu kehidupan. Bukan soal seberapa jauh kita jalan, bukan juga soal seberapa mahal perjalanan kita, tapi seberapa besar perjalanan itu kita maknai dan mempengaruhi karakter pribadi kita. Take vacations, go as many places as you can. You can always make money, but you can't always make memories.

6 comments:

  1. Wah, quote terakhirnya itu bikin pengen liburan "beneran" buat jalan-jalan >,< kapan ya bisa ke papandayan? ^^;

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gunung Fuji dikunjungi dong....biaya hidup di Jepang gmana kak? makan sehari tiga kali abis brapa?

      Delete
  2. Setuju sama Laras, quote terakhirnya ngena bgt.
    Liburan ke Gunung baru ke Bromo ajah, lebih sering ke Pantai.. jadi mau ke Papandaian, keren hutan mati nya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayok, cobain trekking ke papandayan.... dijamin ga nyesel.

      Delete

Komentar atau tidak komentar tetap thank you.