Menikmati Aktivitas sebagai Ilustrator

Sudah berbulan-bulan blog ini tidak diisi postingan, ya, rasanya sudah lama terbengkalai. Ah, ternyata saya belum bisa menjadi blogger yang baik. Kalau menggunakan kesibukan sebagai alasan, rasanya tidak juga. Ah, yang penting ini sedang menulis lagi. Selama beberapa bulan ini, sudah pasti banyak sekali cerita yang bisa dinarasikan, tetapi saat ini tidak gampang juga untuk menuliskan 'sesuatu yang dibayangkan itu'.

Mungkin ini yang dinamakan writer's block, semacam kebuntuan ide untuk menulis. Tetapi kadang-kadang, pada saat menulis ada kekhawatiran bahwa tulisan yang saya posting sama sekali tidak menarik, atau tulisannya sangat biasa, atau tulisannya kurang WOW! Meskipun sebenarnya, menulis itu diawali dengan menyiapkan diri untuk tanggapan buruk atas apa yang kita tulis, atau yang terburuk, yaitu ketika tidak ada perhatian terhadap tulisan tersebut. 

Lupakan tentang writer's block,  saya tidak sedang mengalami hal itu. 

Proses editing gambar dengan software desain grafis.




















Sebulan terakhir ini, saya kembali berkutat dengan aktivitas membuat ilustrasi ilmiah (freehand) untuk sebuah buku diktat anatomi veteriner, dikejar deadline supaya draft-nya segera masuk ke percetakan. Untungnya, menggambar menjadi salah satu hobi saya-yang alhamdulillah bisa tersalurkan untuk sesuatu yang jauh di masa sebelumnya tidak pernah saya bayangkan- jadi saya senang saja mengerjakannya.

Dalam prosesnya, tidak semudah yang dibayangkan, minimal yang saya bayangkan pertama kali dulu. Membuat ilustrasi untuk buku anatomi veteriner bukan sekedar menggambar dengan hasil yang sangat bagus. Ketelitian dan ketepatan-dibandingkan dengan bentuk organ atau bagian tubuh obyek yang digambar- menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan, selain sisi realistis yang dituangkan dalam gambarnya.

Saya yang awalnya hanya berpikir untuk menggambar dengan mengikuti gaya ilustrasi para ilustrator dan penulis buku-buku teks anatomi veteriner, kemudian beres, ternyata harus menghadapi kenyataan bahwa tidak setiap gambar yang saya buat itu perfect. Bukan soal bagus atau tidak, tetapi presisi dan sederhananya ilustrasi yang mewakili obyek yang rumit, sehingga orang yang membaca buku tersebut menjadi lebih mudah dalam memahami narasi ilmiahnya.

Merevisi gambar atau bahkan mengganti, menjadi hal biasa yang saya alami dalam proses sampai buku siap naik cetak, tentunya setelah melewati koreksi dari tim penulis buku tersebut. Memang, dalam perspektif suatu tim penulis, naskah dan ilustrasi harus menjadi kesatuan yang saling melengkapi. Saya juga banyak mendapat masukan dan pembelajaran dalam hal membuat gambar ilustrasi, saya harus memahami apa yang diceritakan serta memahami seperti apa obyek (organ atau bagian tubuh aslinya) yang saya buat ilustrasinya.

Tidak dipungkiri, saya juga banyak membuka buku-buku teks anatomi dari jaman baheula maupun bahan-bahan ajar anatomi terkini yang biasanya diunggah ke situs-situs sains bergenre anatomi veteriner. Tidak ada gading yang tak retak, kekurangan pada gambar ilustrasi yang saya buat tentu ada, begitu pula pada beberapa gambar yang saya temui di buku maupun di situs online, meskipun tidak banyak. Mungkin, terkadang si ilustrator ingin membuat gambar lebih mudah dipahami, akan tetapi justru malah tidak sesuai dengan kondisi pada hewan aslinya, misalnya.

Selama ini banyak yang bertanya kepada saya, kenapa mesti dibuat gambar sketsanya, padahal foto juga ada (dan bisa dibuat). Jawabannya ada beberapa, kesatu, karena tidak semua ilustrasi foto dapat dimengerti dan dipahami; kedua, karena jika ilustrasi dalam sebuah buku berupa foto-foto berwarna, biaya cetaknya tentu akan jauh lebih mahal, tentu biayanya cetak (harga buku) bisa ditekan dengan ilustrasi yang mampu terlihat bagus meskipun dalam cetakan hitam putih; ketiga, karena it's unique!

Beberapa buku yang saya buat ilustrasinya, antara lain dapat dilihat di halaman ini.
DON'T PICK A JOB WITH GREAT VACATION TIME. PICK ONE THAT DOESN'T NEED ESCAPING FROM.

4 comments:

  1. saya sebenernya juga pengen belajar jadi ilustrator, tapi sayangnya saya kurang bisa memvisualkan apa yang ada di pikiran saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. tetep semangat, kemampuan bisa diasah kalo memang ingin. tapi ga perlu dipaksakan.

      Delete
  2. Keren banget mas. Hobi bisa berguna begitu. Apalagi itu untuk ilmu pengetahuan.. Terus semangat berkarya mas!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mas Arif Wijayanto.. semangat juga!

      Delete

Komentar atau tidak komentar tetap thank you.